KISAHAN.ID – Mewujudkan lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan ramah anak menjadi salah satu komitmen yang terus diperkuat Pemerintah Kota Kendari. Upaya tersebut diwujudkan melalui gerakan masif pencegahan kekerasan terhadap anak dan stop bullying di lingkungan sekolah yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DP3A) Kota Kendari.
Program yang dimulai pada, Rabu, 15 Juli 2026 ini menyasar ribuan pelajar jenjang SMP sebagai langkah awal membangun kesadaran sejak dini tentang pentingnya saling menghormati, menghargai perbedaan, serta berani menolak segala bentuk kekerasan maupun perundungan.
Kepala DP3A Kota Kendari, Fitriani Sinapoy, mengatakan, kegiatan tersebut tidak hanya menjadi agenda sosialisasi semata, tetapi juga bagian dari gerakan bersama untuk menciptakan satuan pendidikan yang benar-benar ramah anak.
Pada hari pertama pelaksanaan, edukasi digelar serentak di lima sekolah, yakni SMP Negeri 9, SMP Negeri 12, SMP Negeri 13, SMP Negeri 17, dan SMP Negeri 23 Kota Kendari. Sebanyak 3.288 siswa mengikuti kegiatan tersebut dengan antusias melalui sesi penyuluhan, diskusi, hingga penyampaian materi mengenai pencegahan kekerasan dan bullying.

Menurut Fitriani, keberhasilan menciptakan sekolah yang aman tidak dapat dilakukan oleh pemerintah sendiri. Karena itu, DP3A menggandeng berbagai organisasi masyarakat yang selama ini aktif memperjuangkan hak-hak perempuan dan anak.
Sebanyak 10 organisasi turut menjadi fasilitator dalam kegiatan tersebut, yakni Rumpun Perempuan Sultra, Yayasan Lambu Ina, Koalisi Perempuan Indonesia, Jaringan Perempuan Pesisir Sultra, FORHATI, Muslimah Wahdah, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), Aliansi Perempuan, Solidaritas Perempuan Indonesia, serta DPD Wanita Katolik Sulawesi Tenggara.
Kolaborasi ini diharapkan mampu memperluas jangkauan edukasi sekaligus menghadirkan perspektif yang lebih beragam kepada para siswa mengenai pentingnya menghormati hak sesama, membangun empati, serta berani melaporkan apabila mengalami atau menyaksikan tindakan kekerasan.
Fitriani menjelaskan, sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk karakter anak. Oleh sebab itu, pihak sekolah diajak untuk terus membangun budaya yang ramah anak, bebas dari kekerasan fisik, verbal, maupun psikologis.

“Kami ingin memastikan setiap anak merasa aman saat berada di sekolah. Lingkungan belajar harus menjadi tempat yang menyenangkan, bukan tempat yang menimbulkan rasa takut akibat tindakan bullying ataupun kekerasan,” ujarnya.
Program ini tidak berhenti pada lima sekolah tersebut. Pada 16 Juli 2026, kegiatan serupa akan dilaksanakan di SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 3, SMP Negeri 4, dan SMP Negeri 5 Kota Kendari. Ke depan, edukasi juga akan diperluas hingga jenjang PAUD dan SD agar nilai-nilai perlindungan anak dapat ditanamkan sejak usia dini.
Sementara itu, Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, menegaskan bahwa perlindungan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama antara pemerintah, sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Melalui sosialisasi anti kekerasan terhadap anak dan gerakan stop bullying ini, Pemerintah Kota Kendari ingin membangun kesadaran seluruh pelajar agar mampu menghargai sesama, menjauhi tindakan perundungan, serta menciptakan lingkungan sekolah yang aman, inklusif, dan penuh kasih sayang.

Program tersebut sekaligus menjadi bukti komitmen Pemerintah Kota Kendari dalam memperkuat pemenuhan hak anak melalui kolaborasi lintas sektor. Dengan sinergi pemerintah, sekolah, organisasi masyarakat, dan keluarga, diharapkan lahir generasi Kendari yang tumbuh sehat, percaya diri, berkarakter, serta terbebas dari segala bentuk kekerasan dan bullying di lingkungan pendidikan. (ADV)











Komentar