KISAHAN.ID – Nasib seorang penjual gorengan di Kota Kendari benar-benar membuat geleng kepala. Bukannya mendapat pembeli, gerobaknya justru dihantam sepeda motor yang melaju tak terkendali. Peristiwa itu terjadi di Jalan Martandu, Kelurahan Kambu, Kecamatan Kambu, Kota Kendari, pada Minggu (26/7/2026) malam.
Dalam insiden tersebut, seorang pemuda yang berboncengan melaju dengan kecepatan cukup tinggi hingga kehilangan kendali. Sepeda motor yang dikendarainya kemudian menghantam gerobak gorengan hingga hancur.
Akibat benturan itu, kaca gerobak pecah, dagangan gorengan berserakan, serta sejumlah peralatan berjualan mengalami kerusakan. Penjual gorengan juga mengalami luka pada wajah dan tangan akibat terkena serpihan kaca.
Warga yang menyaksikan kejadian itu langsung berdatangan. Suasana sempat memanas karena mereka menunggu itikad baik pelaku untuk mempertanggungjawabkan kerusakan yang ditimbulkan.
Namun, di tengah kepanikan dan kekesalan korban yang melihat usaha dagangnya porak-poranda, pelaku justru membuat warga tercengang. Alih-alih menanyakan kondisi korban atau menawarkan ganti rugi, pemuda tersebut dengan santai bertanya, “Ada cas HP?”
Rupanya, yang paling dipikirkannya saat itu bukan gerobak yang hancur atau gorengan yang berserakan, melainkan baterai telepon genggamnya yang hampir habis. Permintaan itu sontak membuat warga saling berpandangan. Sebagian menahan tawa, sementara yang lain justru semakin kesal karena menilai pelaku tidak peka terhadap situasi.
Saat penjual gorengan masih sibuk memungut dagangan yang berserakan dan menahan rasa sakit akibat luka di tangannya, pelaku justru mencari colokan listrik untuk mengisi daya telepon genggamnya. Momen itu pun menjadi perbincangan warga karena dianggap di luar nalar.
“Kaya tidak bersalah saja. Sudah menabrak, justru minta cas lagi. Sa kasi ko bagianmu,” ujar penjual gorengan dengan nada kesal.
Tak heran, banyak warga yang berseloroh bahwa gerobak korban sudah lebih dulu “lowbat” karena ditabrak, tetapi yang paling dikhawatirkan pelaku justru baterai telepon genggamnya.
Bagi penjual gorengan, malam itu bukan hanya soal kehilangan dagangan dan gerobak yang rusak, melainkan juga harus menahan kesal akibat sikap pelaku yang dinilai terlalu santai setelah menyebabkan kerugian besar.
Redaksi











Komentar