KISAHAN.ID – Pemerintah Kota Kendari resmi memulai pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP) melalui peletakan batu pertama di Kelurahan Puday, Kecamatan Abeli, Senin (20/7/2026). Program prioritas nasional dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu menjadi harapan baru bagi ribuan keluarga nelayan yang selama ini menggantungkan hidup dari hasil laut.
Bagi masyarakat pesisir, pembangunan ini bukan sekadar menghadirkan infrastruktur baru, tetapi juga membuka jalan menuju kehidupan yang lebih sejahtera. Pemerintah berharap kawasan pesisir di Kendari dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang modern, produktif, dan mampu meningkatkan nilai tambah sektor perikanan.
Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, mengatakan pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih merupakan bagian dari upaya mendukung Asta Cita Presiden Republik Indonesia, khususnya dalam memperkuat kemandirian ekonomi, ketahanan pangan, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.
Menurutnya, sebagai kota yang memiliki 35 dari 65 kelurahan berada di wilayah pesisir, Kendari memiliki potensi kelautan dan perikanan yang sangat besar. Karena itu, pembangunan kawasan nelayan dinilai menjadi investasi penting untuk masa depan masyarakat.

“Melalui pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih ini kita ingin menghadirkan kawasan pesisir yang lebih produktif, modern, dan berdaya saing. Tidak cukup hanya membangun tambatan perahu atau dermaga, tetapi juga membangun ekosistem ekonomi yang mampu meningkatkan nilai tambah hasil perikanan, memperkuat rantai pasok, membuka akses pembiayaan, hingga memperluas pemasaran,” ujar Siska.
Ia menjelaskan, Pemerintah Kota Kendari sebelumnya mengusulkan empat lokasi kepada pemerintah pusat, yakni Kelurahan Puday, Lapulu, Sambuli, dan Tondonggeu. Setelah melalui proses verifikasi KKP, tiga kawasan ditetapkan sebagai penerima program, yaitu Puday, Sambuli, dan Tondonggeu.
Ketiga wilayah tersebut dipilih karena mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan. Sekitar 80 persen penduduk menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan dengan berbagai alat tangkap, mulai dari bubu, purse seine, sero, pancing cumi, hingga rawai.
Program ini diperkirakan akan memberikan manfaat langsung kepada 1.139 kepala keluarga nelayan, terdiri atas 425 kepala keluarga di Puday, 452 kepala keluarga di Sambuli, dan 262 kepala keluarga di Tondonggeu.

Sebagai kawasan penyangga, Kampung Nelayan Merah Putih akan dilengkapi berbagai fasilitas pendukung, seperti tangki air, dinding penahan tanah, instalasi pengolahan air limbah, jalan kawasan, kios perbekalan nelayan, penerangan kawasan, pondasi pabrik es portabel, shelter pendaratan ikan, hingga tambatan perahu.
Siska menegaskan, keberhasilan program ini membutuhkan kolaborasi semua pihak. Pemerintah Kota Kendari akan bersinergi dengan KKP, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara, dunia usaha, perguruan tinggi, lembaga keuangan, koperasi nelayan, serta unsur Forkopimda agar kawasan tersebut berkembang menjadi sentra ekonomi pesisir yang mampu menciptakan lapangan kerja baru.
Sementara itu, Ketua Tim Kerja Pelabuhan KKP, Muhtar, menyebut pembangunan di Kendari menjadi proyek pertama Kampung Nelayan Merah Putih di Sulawesi Tenggara pada 2026. Ia mengungkapkan, provinsi ini ditargetkan memperoleh sekitar 48 titik pembangunan dan masih berpeluang bertambah apabila pemerintah daerah kembali mengusulkan lokasi yang memenuhi persyaratan.
Di sisi lain, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK), Muji, menjelaskan pembangunan tersebut didukung anggaran sebesar Rp11,81 miliar yang bersumber dari APBN Tahun Anggaran 2026 melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap KKP. Proyek ini ditargetkan selesai dalam waktu 135 hari.

Dengan dimulainya pembangunan Kampung Nelayan Merah Putih, harapan baru tumbuh di pesisir Kendari. Program ini diharapkan tidak hanya mempercantik kawasan nelayan, tetapi juga menghadirkan peluang usaha, meningkatkan pendapatan keluarga nelayan, serta menjadikan wilayah pesisir sebagai salah satu motor penggerak ekonomi Kota Kendari di masa mendatang. (ADV)



















Komentar