KISAHAN.ID – Di tengah gemerlap modernitas yang kian merambah hingga ke pelosok daerah, masyarakat Kabupaten Buton Tengah tetap setia menjaga warisan leluhur mereka. Salah satunya melalui Festival Budaya Kamomose yang kembali digelar dengan penuh khidmat dan kehangatan di halaman Masjid Nurul Yaqin. Tradisi yang berlangsung selama tiga malam, 23 hingga 25 Maret 2026 ini, bukan sekadar perayaan budaya, melainkan ruang pertemuan nilai-nilai sosial, spiritual, dan harapan masa depan.
Kamomose dikenal luas sebagai tradisi pencarian jodoh yang unik dan sarat makna. Namun, lebih dari itu, prosesi ini mencerminkan kesiapan diri, kedewasaan, serta restu sosial bagi para gadis yang akan memasuki fase kehidupan baru. Dalam suasana yang sakral, para gadis tampil anggun mengenakan busana adat, duduk berjajar dengan penuh ketenangan, menghadap baskom berisi sebatang lilin yang menyala, sebuah simbol harapan, penerang jalan hidup, dan kemurnian niat.
Prosesi inti yang disebut “posambu” menjadi momen yang paling dinanti. Satu per satu, perangkat adat, tokoh masyarakat, hingga warga yang hadir menaburkan kacang ke dalam wadah di hadapan para gadis. Tindakan sederhana ini sarat filosofi: doa, restu, dan harapan agar para peserta menemukan pasangan hidup yang baik, serta membangun rumah tangga yang harmonis.
Ketua panitia sekaligus Ketua Dewan Kemakmuran Masjid (DKM) Nurul Yaqin, Sarfan Nanaris Gafar, menjelaskan bahwa Festival Kamomose merupakan agenda tahunan yang rutin dilaksanakan, biasanya beberapa hari setelah Lebaran atau bertepatan dengan kegiatan adat lainnya. Meski secara umum digelar selama dua hari, fleksibilitas tetap diberikan sesuai permintaan masyarakat.
“Tradisi ini bukan hanya milik generasi tua, tetapi juga harus diwariskan kepada generasi muda. Karena di dalamnya ada nilai kebersamaan, kesopanan, dan penghormatan terhadap adat,” ujarnya.
Pada malam penutupan, Bupati Buton Tengah, Azhari, turut hadir dan memberikan pesan yang penuh makna. Ia mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga dan melestarikan Kamomose sebagai identitas budaya daerah, khususnya di Kecamatan Lakudo.
Menurutnya, di tengah arus globalisasi, tradisi seperti Kamomose justru menjadi peneguh jati diri masyarakat. Ia berharap festival ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga tuntunan yang mengajarkan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus.
Festival Kamomose bukan sekadar ajang mencari jodoh, melainkan cermin kearifan lokal yang memadukan adat, doa, dan kebersamaan dalam satu harmoni. Dari Boneoge, pesan tentang pentingnya menjaga tradisi kembali digaungkan, bahwa di balik setiap prosesi adat, tersimpan identitas dan masa depan sebuah peradaban.
Redaksi



Komentar