KISAHAN.ID – Rangkaian program pengabdian PPI Dunia Mengabdi 2026 di Pulau Sulawesi resmi ditutup dengan momen bersejarah di Desa Mola Nelayan Bhakti, Kabupaten Wakatobi.
Penutupan tersebut dirangkai dengan aksi simbolis pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 108 meter. Kegiatan itu menjadi wujud semangat cinta tanah air mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri.
Program tersebut merupakan hasil kolaborasi PPI Dunia Mengabdi dengan Ikatan Alumni SMA Negeri 4 Kendari, BEM Universitas Halu Oleo, BEM FKIP Universitas Muhammadiyah Kendari, BEM ITBM Wakatobi, serta BEM STIE 66 Kendari.
Kegiatan yang berlangsung di kawasan pesisir Desa Mola Nelayan Bhakti itu menjadi penutup rangkaian program pengabdian yang telah dilaksanakan selama beberapa hari di wilayah tersebut.
Pemilihan Desa Mola Nelayan Bhakti sebagai lokasi pengabdian dinilai strategis karena desa tersebut merupakan salah satu kawasan pesisir dengan potensi bahari yang besar. Mayoritas penduduknya merupakan Suku Bajo yang dikenal memiliki kehidupan erat dengan laut.
Momen tersebut sekaligus menjadi bagian dari perayaan menyambut Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.

Pembentangan bendera sepanjang 108 meter bukan sekadar seremoni, melainkan simbol semangat perjuangan dan harapan besar untuk masa depan Indonesia.
“Ini adalah sejarah pertama kali yang dilakukan di Wakatobi,” ujar Kepala Desa Mola Nelayan Bhakti, Derdi, S.Sos., dalam sambutannya.
Ia menyampaikan apresiasi kepada tim PPI Dunia Mengabdi yang telah memilih Desa Mola Nelayan Bhakti sebagai lokasi kegiatan PPI Dunia Mengabdi 2026 Chapter Sulawesi.
“Kami sangat berterima kasih karena telah memilih Desa Mola Nelayan Bhakti sebagai tempat kegiatan PPI Dunia Mengabdi 2026 Chapter Sulawesi. Ini merupakan suatu kehormatan karena kedatangan mahasiswa hebat Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di luar negeri dan dalam negeri. Tim PPI Dunia Mengabdi juga disambut dengan hangat dan baik oleh warga desa setempat,” katanya.
Koordinator PPI Dunia 2025/2026, Andika Ibrahim Nasution, dalam sambutan penutupan menyampaikan terima kasih atas sambutan masyarakat Wakatobi.
“Terima kasih kami sudah diterima dengan baik di Wakatobi. Program ini menjadi sejarah karena PPI Dunia berhasil melakukan pengabdian pertama kali di pulau terluar Sulawesi,” ujarnya.

Pernyataan tersebut sejalan dengan komitmen PPI Dunia untuk hadir di wilayah 3T, yakni daerah terdepan, terluar, dan tertinggal, sebagai bentuk pengabdian nyata kepada bangsa dan negara.
Kegiatan penutupan menjadi puncak dari serangkaian program pengabdian yang dilakukan tim PPI Dunia Mengabdi Chapter Sulawesi. Sepanjang program, para mahasiswa berinteraksi langsung dengan masyarakat.
Hal tersebut sejalan dengan semangat Bhumi Nusantara Loka Bhakti yang terus digaungkan PPI Dunia, yakni menghadirkan pengabdian di wilayah-wilayah 3T di Indonesia.
Dengan suksesnya penutupan program di Wakatobi, PPI Dunia Mengabdi kembali mencatatkan jejak pengabdian yang sarat makna dan semangat kebangsaan.
Pembentangan bendera Merah Putih sepanjang 108 meter tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi generasi muda, khususnya di Kabupaten Wakatobi, bahwa cinta tanah air dapat diwujudkan melalui karya dan pengabdian di mana pun berada demi menuju Indonesia Emas 2045.
Steering Committee PPI Dunia Mengabdi 2026 Chapter Sulawesi, Muhammad Awalun Nur Rahmat, yang merupakan putra daerah Sulawesi Tenggara, mengatakan pengabdian di Wakatobi memiliki makna tersendiri baginya.

Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk memberikan kontribusi nyata sekaligus memperkenalkan potensi Sulawesi Tenggara kepada masyarakat nasional hingga internasional.
“Sebagai putra daerah, tentu ada rasa bangga dan haru bisa membawa teman-teman PPI Dunia hadir dan mengabdi di tanah ini. Wakatobi memiliki kekayaan alam, budaya, dan masyarakat yang luar biasa, khususnya masyarakat Bajo. Saya berharap potensi ini dapat semakin dikenal hingga ke tingkat internasional,” ujar Rahmat.
Ia juga berharap kegiatan tersebut dapat membuka wawasan dan kesempatan bagi generasi muda Sulawesi Tenggara untuk berani bermimpi serta menempuh pendidikan setinggi mungkin.
“Anak-anak Sulawesi Tenggara memiliki potensi yang luar biasa. Tugas kita adalah membuka jalan dan memberikan mereka kesempatan untuk belajar, termasuk hingga ke luar negeri. Karena sejauh apa pun kita pergi menuntut ilmu, pada akhirnya akan selalu ada alasan untuk kembali dan memberikan sesuatu bagi daerah yang membesarkan kita,” pungkasnya.
Redaksi



















Komentar