KISAHAN.ID – Di balik setiap angka yang akan menjadi dasar kebijakan pembangunan, ada perjuangan panjang para petugas Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Tenggara (Sultra) yang rela menembus medan berat demi memastikan tidak ada satu pun aktivitas ekonomi masyarakat yang terlewat dalam Sensus Ekonomi (SE) 2026.
Langkah mereka tidak selalu mudah. Di 17 kabupaten/kota se-Sultra, para petugas harus menyusuri jalan rusak, melintasi hutan, menyeberangi sungai, rawa-rawa, hingga berjalan di atas jembatan bambu yang rapuh. Tak jarang mereka juga menggunakan perahu rakit untuk menjangkau permukiman terpencil yang sulit diakses kendaraan.
Pakaian yang basah dan penuh lumpur, serta sandal yang kotor menjadi bagian dari keseharian mereka selama menjalankan tugas. Rasa lelah pun tak terhindarkan. Namun, semua itu tak menyurutkan semangat para petugas untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat, memastikan setiap usaha, pekerjaan, dan aktivitas ekonomi tercatat dengan baik.
Kepala BPS Sultra, Hadi Susanto, mengatakan seluruh perjuangan tersebut dilakukan agar data yang dihasilkan benar-benar akurat dan mampu menjadi pijakan pembangunan daerah.
“Data yang diperoleh akan membantu pemerintah dalam menyusun program pembangunan yang lebih efektif dan tepat sasaran. Dengan sensus ini tentu akan lahir data yang akurat sehingga potensi daerah akan terpetakan, termasuk sektor-sektor yang masih bisa dikembangkan melalui dukungan kebijakan pemerintah,” ujarnya, Minggu (26/7/2026).
Pelaksanaan SE2026 juga menjadi perhatian langsung Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti, saat mengunjungi BPS Sultra pada 1 Juni 2026. Dalam kunjungan itu, ia memastikan seluruh persiapan berjalan optimal sekaligus mengajak masyarakat berpartisipasi aktif agar setiap usaha dan aktivitas ekonomi dapat tercatat demi menghadirkan kebijakan yang lebih tepat untuk masa depan.
Komitmen tersebut kemudian ditegaskan melalui Apel Gabungan Pencanangan Pelaksanaan SE2026 yang dipimpin Wakil Kepala BPS RI, Sonny Harry Budiutomo Harmadi, di Lapangan Kantor Gubernur Sultra pada 15 Juni 2026.
Ia menyebut pendataan lapangan yang berlangsung hingga 31 Agustus 2026 menjadi langkah besar dalam memotret perekonomian Indonesia.
Untuk pertama kalinya, cakupan sensus diperluas dengan memasukkan sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, serta aktivitas ekonomi keluarga melalui pendataan dari rumah ke rumah.
Sonny juga mengajak masyarakat mendukung gerakan TIR, yakni menerima kedatangan petugas sensus, mengisi data dengan benar, dan meyakini bahwa kerahasiaan data dijamin sepenuhnya oleh BPS.
Di balik setiap formulir yang terisi, tersimpan kisah pengabdian para petugas yang mempertaruhkan tenaga demi satu tujuan besar, yaitu menghadirkan data berkualitas untuk masa depan Sulawesi Tenggara dan Indonesia yang lebih baik. Sebab, pembangunan yang tepat sasaran selalu berawal dari data yang akurat.
Redaksi











Komentar