KISAHAN.ID – Suasana sederhana di sebuah rumah di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menghadirkan pemandangan yang menghangatkan hati. Di tengah waktu luangnya, Muh Naufal (7), siswa SDN 53 Kendari, memilih menghabiskan waktu bukan dengan bermain gawai, melainkan menjadi “guru dadakan” bagi sang adik, Muh Nadil (4).
Dengan penuh kesabaran, Naufal duduk berhadapan dengan adiknya. Sesekali ia mengeja huruf demi huruf, mengajak Nadil mengikuti setiap kata yang diucapkannya. Ketika sang adik mulai memahami, senyum bangga pun terpancar dari wajah kakak kecil tersebut.
Tak hanya mengajarkan cara membaca, Naufal juga mengenalkan berbagai pengetahuan dasar kepada adiknya. Mulai dari mengenal huruf hingga memperkenalkan wawasan kebangsaan, seperti menghafal Pancasila dan mengenal lambangnya, serta menumbuhkan rasa cinta kepada Indonesia sejak usia dini.
Meski usianya baru tujuh tahun, Naufal menunjukkan kepedulian yang jarang ditemui pada anak seusianya. Baginya, membantu adik belajar menjadi aktivitas yang menyenangkan sekaligus menjadi bentuk kasih sayang dalam keluarga.
Sementara itu, Nadil tampak antusias mengikuti setiap pelajaran yang diberikan sang kakak. Sesekali ia mengulang bacaan dengan suara lantang, lalu tersenyum ketika mendapat pujian karena berhasil mengingat apa yang telah diajarkan.
Kebersamaan keduanya menjadi bukti bahwa pendidikan tidak selalu harus berlangsung di ruang kelas. Dari sudut rumah yang sederhana, seorang kakak mampu menjadi teladan pertama bagi adiknya, menanamkan semangat belajar sekaligus nilai-nilai kebangsaan sejak dini.
Kisah Naufal dan Nadil menjadi pengingat bahwa peran keluarga memiliki arti besar dalam membangun karakter anak. Melalui perhatian, kesabaran, dan kebersamaan, proses belajar dapat tumbuh secara alami, menghadirkan momen-momen sederhana yang sarat makna.
Redaksi











Komentar