KENDARI, KISAHAN.ID – Pemerintah Kota Kendari menunjukkan keseriusannya dalam menurunkan angka stunting melalui Gerakan Orang Tua Asuh Atasi Stunting (Genting). Program ini menjadi bentuk konkret komitmen Pemkot dalam mencetak generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.
Upaya penanganan terus dilakukan. Data terkini dari Survei Kesehatan Indonesia (SKI) menunjukkan angka stunting Kota Kendari di angka 25,7 persen. Sementara itu, Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) mencatat angka yang sedikit lebih rendah, yakni 20 persen. Kendati terjadi penurunan, capaian ini belum memenuhi target nasional 2025, yaitu 18,8 persen.
Menyikapi hal itu, Wali Kota Kendari, Siska Karina Imran, dalam sambutan yang dibacakan Asisten II, Nismawati, menekankan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak yang di bawah rata-rata. Stunting merupakan bentuk ketimpangan gizi kronis yang berdampak jangka panjang pada kecerdasan, produktivitas, dan kualitas hidup anak di masa depan.

Asisten II Setda Kendari Nismawati, saat membawakan sambutan dalam sosialisasi Genting. Dok. Istimewa.
“Penanganan stunting harus menyeluruh. Kita tidak bisa hanya melihat aspek fisik anak, tetapi juga bagaimana kualitas pola asuh, lingkungan, dan kesiapan keluarga dalam mendampingi tumbuh kembang anak,” ujar Nismawati, Selasa (1/7/2025).
Program Genting mengajak masyarakat berdaya secara ekonomi untuk menjadi orang tua asuh bagi keluarga yang berisiko tinggi stunting. Bantuan tidak sebatas dukungan gizi tambahan, tetapi juga menyentuh aspek edukasi pola asuh yang benar, pemantauan kehamilan, hingga upaya menjaga jarak kelahiran.
Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP2KB) Kota Kendari, Jahudding, menyebutkan bahwa saat ini ada 1.018 keluarga yang teridentifikasi berisiko tinggi mengalami stunting. Data tersebut dihimpun melalui identifikasi enam indikator utama, termasuk akses air bersih, ketersediaan sanitasi layak, status gizi ibu hamil, serta kondisi kehamilan berisiko seperti “4 terlalu” (terlalu muda, terlalu tua, terlalu sering hamil, dan terlalu banyak anak).

Kepala DP2KB Kendari Jahudding, saat membawakan sambutan dalam sosialisasi Genting. Dok. Istimewa.
“Melalui pendekatan kolaboratif, kita ingin membangun kesadaran bahwa stunting bukan hanya urusan pemerintah. Ini masalah bersama yang membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat,” kata Jahudding.
Melalui pendekatan ‘whole of government’ dan ‘whole of society’, Pemkot Kendari menggabungkan kekuatan antarsektor dengan dukungan masyarakat sipil untuk mempercepat pencapaian target nasional. Pemerintah optimistis bahwa dengan melibatkan warga, tokoh masyarakat, dunia usaha, hingga organisasi keagamaan, Kota Kendari dapat menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal.
Lebih dari sekadar mengejar angka statistik, Gerakan Genting dibentuk untuk menanamkan kesadaran kolektif dan membangun ketahanan keluarga sejak dini. Pemkot Kendari meyakini bahwa anak yang sehat akan menjadi investasi terbesar dalam pembangunan kota yang cerdas dan unggul.
“2025 adalah target nasional. Tapi bagi kita, ini adalah momen membangun masa depan Kendari yang lebih sehat dan kuat,” pungkas Nismawati.

Peserta sosialisasi Genting saat menandatangani kerja sama pencegahan stunting di Kendari. Dok. Istimewa.
Dengan Gerakan Genting, Pemkot Kendari terus menegaskan bahwa stunting adalah persoalan genting yang harus diatasi sekarang, bukan nanti. Dan solusi terbaiknya dimulai dari rumah, dari keluarga, dengan semangat gotong royong seluruh warga kota. (ADV)











Komentar