Infrastruktur

Kaya Sumber Daya, Miskin Infrastruktur: Potret Ketimpangan di Routa Konawe

{"remix_data":[],"remix_entry_point":"challenges","source_tags":["local"],"origin":"unknown","total_draw_time":0,"total_draw_actions":0,"layers_used":0,"brushes_used":0,"photos_added":0,"total_editor_actions":{},"tools_used":{"transform":1},"is_sticker":false,"edited_since_last_sticker_save":true,"containsFTESticker":false}

KISAHAN.ID – Di tengah besarnya potensi tambang yang digadang-gadang menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), warga Kelurahan Routa, Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara (Sultra), justru masih bergelut dengan persoalan infrastruktur dasar yang tak kunjung tuntas. Jalan rusak parah dan listrik yang kerap padam menjadi potret ironi pembangunan di wilayah tersebut.

Kerusakan jalan disebut terjadi hampir di sepanjang jalur utama yang menghubungkan Routa dengan wilayah lain. Kondisi itu dinilai menghambat aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Ahmad, salah seorang warga Routa, menuturkan bahwa akses jalan sepanjang kurang lebih 80 kilometer dari Tetewatu menuju Routa sudah lama dalam kondisi memprihatinkan tanpa perbaikan signifikan.

“Sekitar 80 kilometer dari Tetewatu ke Routa, jalan rusak parah sejak dulu. Kehadiran perusahaan di sekitar itu tidak memiliki manfaat yang signifikan,” ujar Ahmad, Jumat (20/2/2026).

Tak hanya infrastruktur jalan, warga juga mengeluhkan dampak lingkungan akibat aktivitas pertambangan. Sungai Lalindu yang selama ini menjadi sumber kebutuhan sehari-hari disebut telah tercemar. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran masyarakat terhadap dampak kesehatan dan keberlanjutan lingkungan.

Di tengah keluhan itu, Ahmad menyebut tidak semua perusahaan bersikap abai. Ia mencontohkan PT Abadi Nikel Nusantara (ANN) yang dinilai turut membantu masyarakat melalui pengerasan jalan, meskipun perusahaan tersebut tidak berbasis di Routa.

“Bahkan ada perusahaan dari Morowali, PT ANN yang notabene bukan berbasis di Routa, tidak pakai jalan itu, tapi malah membantu masyarakat dengan melakukan pengerasan jalan. Ada juga PT Sulawesi Cahaya Mineral (SCM), tapi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat luas, hanya sebagian-sebagian saja yang mereka mau bantu,” katanya.

Persoalan lain yang tak kalah krusial adalah pasokan listrik. Menurut Ahmad, pemadaman terjadi berulang kali dengan durasi cukup lama, bahkan bisa berlangsung hingga sepekan. Kondisi ini dinilai sangat mengganggu aktivitas warga, terutama pada malam hari.

“Lampu itu padam sering sekali, semingguan baru menyala. Itupun setelah menyala sehari, baru padam lagi. Padam, menyala, padam, begitu terus sejak dulu,” ungkapnya.

Ahmad pun mempertanyakan komitmen pemerintah daerah terhadap kesejahteraan masyarakat di wilayah terpencil seperti Routa. Ia menilai kontribusi besar sektor pertambangan terhadap PAD belum sebanding dengan perhatian terhadap kebutuhan dasar warga.

“Tersisa pemerintah mau melihat kami masyarakat terpencil ini atau tidak. Padahal, kalau dihitung PAD di Routa dari sektor pertambangan besar sekali. Ada juga PT SCM yang suka janji masyarakat, tapi tidak memberikan manfaat bagi masyarakat luas,” tutupnya.

Kondisi ini menjadi catatan serius bagi pemerintah daerah dan para pemangku kepentingan. Di tengah geliat investasi tambang, masyarakat Routa masih menunggu pemerataan pembangunan yang nyata, bukan sekadar janji.

Redaksi

Loading

Facebook Comments Box

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *