Infrastruktur

Tukang Jadi “Kambing Hitam”, 4 Proyek Strategis Presiden RI di Koltim Terkesan Lambat

Sejumlah proyek strategis Presiden RI di Koltim yang belum mencapai 20 persen. Dok: Istimewa.

KISAHAN.ID – Sebanyak empat pembangunan proyek strategis nasional Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP/KKMP) di Kabupaten Kolaka Timur (Koltim), Sulawesi Tenggara (Sultra), berjalan lambat. Keempatnya adalah KDMP/KKMP Labandia, Wonuambuteo, Lere Jaya, dan Atulano.

Hingga pertengahan April 2026, progres pembangunan proyek strategis nasional yang menjadi program unggulan Presiden Prabowo Subianto ini belum mencapai 20 persen, meskipun waktu pengerjaan telah berjalan sejak Januari 2026. Padahal, peresmian akan dilakukan serentak oleh Presiden pada 12 Juli 2025 bertepatan dengan Hari Koperasi Nasional (HKN).

KDMP/KKMP merupakan inisiatif pemerintah pusat untuk memperkuat ekonomi desa melalui koperasi berbasis gotong royong. Koperasi ini dirancang sebagai pusat kegiatan ekonomi multifungsi, mulai dari penyediaan sembako, layanan apotek, hingga unit simpan pinjam. Secara nasional, program ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan.

Namun, implementasi KDMP/KKMP di empat titik yang ada di Koltim dinilai jauh dari harapan. Dari empat titik pembangunan tersebut, seluruhnya masih menunjukkan progres yang lambat. Sisa waktu pengerjaan kini hanya sekitar tiga bulan.

Kondisi ini memicu kekhawatiran, mengingat proyek tersebut berstatus strategis nasional dan seharusnya menjadi prioritas percepatan. Minimnya progres dalam setengah waktu pelaksanaan dinilai mencerminkan lemahnya perencanaan dan pengawasan di lapangan.

Komandan Kodim 1412 Kolaka, Letkol Inf Choky Gunawan, saat dihubungi Kendariinfo, Senin (13/4/2026), mengakui adanya keterlambatan dalam pengerjaan. Ia menyebut sejumlah kendala teknis menjadi penyebab utama, mulai dari keterbatasan tenaga tukang hingga ketersediaan material.

“Progres itu ada yang cepat, ada yang lambat karena banyak variabel. Salah satunya tukang. Kadang kami menggunakan tukang gabungan dengan warga setempat, juga tukang dari luar. Namun, terkadang tukang yang didapat kurang terampil, kerjanya lambat, bahkan tiba-tiba pindah ke tempat lain,” ujarnya, Rabu (15/4/2026).

Selain itu, lanjut Choky, faktor distribusi material juga menjadi hambatan. Lokasi proyek yang berjauhan serta keterbatasan stok bahan bangunan disebut memperlambat pekerjaan di lapangan.

“Material kadang-kadang sulit. Di satu titik, terutama yang jauh, pengambilan material juga jauh. Selain itu, material sering menjadi rebutan. Mau beli di satu tempat habis, di tempat lain juga habis,” bebernya.

Meski demikian, ia memastikan target penyelesaian tetap dikejar. Berbagai upaya percepatan akan dilakukan, termasuk pemberlakuan kerja lembur agar proyek dapat selesai sebelum jadwal peluncuran nasional.

“Targetnya Juli harus selesai karena akan diluncurkan secara serentak oleh Presiden. Kami akan bekerja hingga malam dengan menggunakan lampu sorot,” tambahnya.

Redaksi

Loading

Facebook Comments Box

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *