KISAHAN.ID – Sebuah video yang memperlihatkan kondisi jembatan gantung di Desa Batuganda, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara, Sulawesi Tenggara, mendadak ramai di media sosial. Video itu pertama kali diunggah oleh seorang guru melalui akun Facebook bernama Nidha Adiba pada Kamis (18/6/2026).
Dalam unggahannya, sang guru menulis sederhana namun penuh makna: “Jembatan yang selalu kami lewati saat menuju ke SDN 11 Lasusua Kabupaten Kolaka Utara.”
Jembatan gantung itu disebut menjadi satu-satunya akses menuju sekolah, dengan susunan papan kayu yang tampak sudah tidak sepenuhnya “percaya diri” menahan beban. Setiap kali motor melintas, papan terlihat bergoyang seperti sedang ikut berjoget pelan. Di bawahnya, sungai dengan arus cukup deras mengalir tanpa kompromi.
Kocaknya, suasana makin “hidup” ketika para pengendara yang melintas justru mengikuti petunjuk Google Maps. Aplikasi itu disebut mengarahkan mereka untuk belok kiri tepat dari atas jembatan, sebuah instruksi yang di lapangan terasa seperti “uji nyali level dewa”.
Seorang pengendara wanita pun tak kuasa menahan emosi sekaligus humor di tengah situasi tegang itu. Dengan nada bercampur panik dan lucu, ia melontarkan keluhan kepada aplikasi navigasi tersebut.
“Google pewowi (bodoh, bahasa Suku Tolaki), ko suru saya belok kiri, ko tidak lihat ka itu jurang, ko mo bunuh saya ka,” ucapnya yang langsung viral dan mengundang tawa warganet.
Warganet pun ramai-ramai membayangkan jika Google Maps benar-benar “turun lapangan”, mungkin akan ikut gemetar juga melihat kondisi jembatan tersebut.
Banyak yang menilai, ini adalah salah satu momen ketika teknologi dan realita benar-benar tidak sejalan, yang satu yakin ada jalan, yang satu lagi yakin itu jalan ke “mode ekstrem”.
Meski dibalut humor, kondisi jembatan tersebut tetap menjadi sorotan karena menjadi akses vital bagi guru dan siswa menuju sekolah setiap hari.
Redaksi



















Komentar