KISAHAN.ID – Pernyataan anggota DPR RI Sulawesi Tenggara (Sultra), Bahtra Banong, yang menyebut anak-anak di pelosok Sultra sangat membutuhkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), kini berhadapan dengan fakta pahit kondisi pendidikan di lapangan. Di Kabupaten Kolaka Utara, sebuah sekolah dasar negeri berdiri dalam kondisi memprihatinkan dengan ruang kelas rusak, dinding jebol, dan lantai masih berupa tanah.
Potret itu terlihat di SD Negeri 13 Lasusua yang berada di Dusun Tobau, Kelurahan Batuganda Permai, Kecamatan Lasusua, Kabupaten Kolaka Utara. Video kondisi sekolah tersebut viral di media sosial dan memicu keprihatinan publik.
Dalam rekaman yang beredar, tiga ruang kelas tampak mengalami kerusakan berat. Dinding bangunan jebol di sejumlah sisi, sebagian struktur terlihat lapuk, sementara siswa masih belajar di ruangan dengan lantai tanah. Meja dan kursi yang digunakan pun terlihat usang dan tidak layak.
“Kondisinya memprihatinkan,” ujar seorang warga berinisial P, Sabtu (20/6/2026).
Viralnya kondisi SDN 13 Batuganda muncul hanya beberapa hari setelah Bahtra Banong menjadi sorotan usai membela program MBG dalam debat televisi nasional bertema Mahasiswa Bergerak, Pemerintah Diminta Merespons Tuntutan pada Senin (15/6/2026).
Saat itu, Bahtra mencontohkan kehidupan pelajar di pelosok Sultra yang harus berangkat sekolah menggunakan perahu dalam keadaan lapar. Menurutnya, program MBG sangat dibutuhkan karena banyak anak di daerah terpencil datang ke sekolah tanpa sarapan.
“Bayangkan adik-adik kita berangkat ke sekolah menggunakan perahu tanpa mereka makan,” kata Bahtra dalam debat tersebut.
Namun pernyataan itu justru memantik kritik. Banyak pihak menilai ucapan tersebut secara tidak langsung membuka fakta bahwa persoalan dasar pendidikan di Sultra belum sepenuhnya terselesaikan.
Jika anak-anak masih harus menyeberang menggunakan perahu untuk sekolah, sementara di sisi lain masih ditemukan ruang kelas dengan dinding jebol dan lantai tanah seperti di SDN 13 Lasusua, maka persoalan yang dihadapi bukan hanya soal perut lapar, melainkan juga minimnya infrastruktur pendidikan yang layak.
Kondisi SDN 13 Lasusua menjadi simbol ironi yang kini ramai diperbincangkan. Di saat program makan bergizi terus dikampanyekan sebagai solusi meningkatkan kualitas pendidikan, masih ada siswa yang belajar di bangunan yang dinilai jauh dari standar kenyamanan dan keselamatan.
Warga pun mendesak pemerintah tidak hanya fokus pada program tambahan, tetapi juga segera menyelesaikan persoalan mendasar pendidikan, mulai dari rehabilitasi sekolah rusak, penyediaan fasilitas belajar yang layak, hingga pemerataan pembangunan infrastruktur di wilayah terpencil Sulawesi Tenggara.
Redaksi











Komentar