KISAHAN.ID – Kondisi jalan di Desa Korihi, Kecamatan Lohia, Kabupaten Muna, Sulawesi Tenggara (Sultra), kian memantik sorotan tajam terhadap kinerja pemerintah daerah. Infrastruktur yang seharusnya menjadi penopang utama mobilitas warga sekaligus akses vital menuju dua destinasi unggulan, Pantai Meleura dan Danau Napabale, justru dibiarkan dalam kondisi rusak parah tanpa kepastian perbaikan.
Pantauan di lapangan menunjukkan ruas jalan dipenuhi lubang menganga dengan berbagai ukuran yang membentang hingga beberapa kilometer. Ironisnya, kerusakan ini terjadi di kawasan padat penduduk yang setiap hari dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Alih-alih mendapat perhatian serius, kondisi tersebut justru terkesan diabaikan, seolah bukan prioritas pembangunan.
Warga pun terpaksa mengambil peran yang seharusnya menjadi tanggung jawab pemerintah. Secara swadaya, mereka menutup lubang menggunakan batu dan tanah seadanya. Namun, upaya darurat itu jelas tidak menyelesaikan persoalan. Saat hujan turun, tambalan sederhana itu kembali rusak, bahkan memperparah kondisi jalan.
“Parah, sudah lama rusak, belasan tahun tidak diperbaiki, padahal ini akses vital wisata,” ujar Jono (22), warga setempat, dengan nada kecewa, Minggu (21/3/2026).
Keluhan serupa disampaikan Zul (30), yang menyoroti tingginya risiko kecelakaan akibat jalan berlubang.
“Sering terjadi kecelakaan di sini. Jalan berlubang, apalagi kalau malam hari atau saat hujan, sangat berbahaya,” katanya.
Fakta di lapangan ini menjadi cermin lemahnya respons pemerintah daerah terhadap kebutuhan dasar masyarakat. Padahal, jalan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai jalur aktivitas harian warga, tetapi juga menjadi urat nadi pengembangan sektor pariwisata. Ketika akses dibiarkan rusak, dampaknya bukan hanya pada keselamatan, tetapi juga memukul ekonomi lokal.
Minimnya perhatian terhadap infrastruktur ini berpotensi menghambat pertumbuhan wisata di Muna. Wisatawan yang hendak berkunjung ke Pantai Meleura dan Danau Napabale harus menghadapi risiko perjalanan yang tidak nyaman dan berbahaya. Kondisi ini secara tidak langsung menggerus potensi pendapatan masyarakat yang menggantungkan hidup dari sektor tersebut.
Hingga kini, belum terlihat langkah konkret dari pemerintah untuk memperbaiki kerusakan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Tidak adanya progres perbaikan semakin mempertegas kesan lambannya penanganan, bahkan cenderung abai terhadap keluhan masyarakat.
Jika terus dibiarkan, kerusakan jalan dipastikan akan semakin parah, sementara risiko kecelakaan kian meningkat. Warga mendesak pemerintah Kabupaten Muna untuk segera bertindak nyata, bukan sekadar janji, dalam memperbaiki infrastruktur yang menjadi kebutuhan mendesak sekaligus penopang masa depan pariwisata daerah.
Redaksi
![]()














Komentar