Hukrim

Sekuriti di Kendari Nekat Curi Laptop Sekolah Rakyat, Uangnya Dipakai Judol, Kini Ditangkap Buser 77

Sekuriti yang curi laptop dan sejumlah barang bukti yang disita Buser 77 di Kendari. Dok: Istimewa.

KISAHAN.ID – Ada pepatah lama yang berbunyi “pagar makan tanaman”. Di Kota Kendari, pepatah itu seolah mendapat versi modernnya, sekuriti menjaga sekolah, lalu diam-diam ikut “memindahkan inventaris” sekolah ke tempat lain.

Ia adalah Muh. Arwand Haliq alias Wawan (28), seorang petugas keamanan di Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 70 Kendari. Ia terlalu serius menjalankan tugas ronda malam. Bedanya, yang diperiksa bukan pintu dan jendela, melainkan lokasi penyimpanan laptop.

Bukannya mengusir pencuri, Wawan justru mengambil peran ganda. Siang menjadi penjaga, malam berubah menjadi “kurir internal” yang membawa laptop keluar sedikit demi sedikit agar tidak mengundang kecurigaan.

Cara kerjanya bahkan terbilang sabar, satu per satu, pelan-pelan, seperti orang membawa pulang sisa makanan hajatan supaya tetangga tidak sadar.

Kasat Reskrim Polresta Kendari, Kompol Welliwanto Malau, menjelaskan bahwa pelaku memiliki akses ke ruang penyimpanan karena bekerja sebagai sekuriti di sekolah tersebut.

“Dengan kunci yang dikuasainya, ia masuk ke gudang dan mengambil laptop secara bertahap selama tiga hari,” ucapnya, Selasa (30/6/2026).

Ironisnya, laptop yang seharusnya dipakai untuk menunjang pendidikan itu justru berakhir di sejumlah konter gadai di Kota Kendari. Hasilnya pun bukan dipakai membuka usaha, membeli motor, atau menabung masa depan, melainkan habis di meja judi online.

“Uangnya dipakai main judi online,” tambahnya.

Ibarat orang memancing ikan, yang didapat bukan ikan besar, melainkan buntut panjang masalah hukum. Uang gadai jutaan rupiah yang sempat diperoleh pelaku menguap di dunia maya, sementara laptop-laptop itu akhirnya kembali ditemukan polisi.

Tim URC Buser 77 Satreskrim Polresta Kendari kemudian menangkap Wawan di Jalan Jenderal Ahmad Yani, Kelurahan Lepo-lepo, Senin malam. Lima unit laptop berhasil diamankan sebagai barang bukti, sedangkan beberapa lainnya masih ditelusuri.

Kisah ini memang mengandung sisi yang ironis dan menggelengkan kepala. Seorang penjaga yang seharusnya melindungi aset sekolah justru diduga mengambilnya sendiri.

Namun di balik kelucuan situasinya, ada pelajaran yang cukup mahal, judi online sering kali menjanjikan kemenangan cepat, tetapi lebih sering membuat orang kehilangan uang, pekerjaan, kepercayaan, bahkan kebebasannya sendiri.

Akhirnya, laptop kembali ke sekolah, polisi bekerja, dan sang sekuriti harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Sementara judi online sekali lagi membuktikan bahwa yang paling sering menang bukan pemainnya, melainkan masalah yang datang setelahnya.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *