Pemerintah

Imbas Patung Pahlawan Era Ali Mazi: Seniman Terlantar di Surabaya, Istrinya Jual Nasi Goreng di Yogyakarta

Patung Oputa Yi Koo Baubau era Ali Mazi dan keluarga seniman asal Yogyakarta. Dok: Istimewa.

KISAHAN.ID – Suasana malam di Yogyakarta kini terasa berbeda bagi Erni Jayanti dan dua buah hatinya. Tak ada lagi sosok suami dan ayah yang setiap hari pulang ke rumah. Tak ada lagi tempat berkarya yang dahulu menjadi sumber kehidupan keluarga.

Kini, Erni berusaha bertahan dengan berjualan nasi goreng. Dua anaknya, Ervito Lingga Irvanda dan Rajendra Raditya Irvanda tinggal bersama keluarga di Yogyakarta.

Ayah mereka, Rinta Irvanda, seorang seniman asal Yogyakarta, justru harus merantau jauh ke Surabaya. Pertemuan keluarga itu kini hanya berpindah ke layar ponsel. Rindu seorang istri kepada suami, dan rindu dua anak kepada ayahnya, harus dibayar dengan panggilan video.

Rinta mengaku tak punya banyak pilihan. Rumah yang pernah menjadi tempat keluarganya berteduh telah dilepas. Mobil ikut dijual. Studio yang selama ini menjadi tempatnya berkarya juga tak lagi dimiliki.

Semua dilakukan untuk bertahan menghadapi beban keuangan setelah pekerjaannya sebagai seniman pada proyek Patung Pahlawan Nasional Oputa Yi Koo di kawasan Kotamara, Kota Baubau, Sulawesi Tenggara (Sultra), belum dibayar sepenuhnya.

Proyek Rp53 Miliar: Era Gubernur Ali Mazi

Patung Oputa Yi Koo merupakan proyek yang digagas pada era mantan Gubernur Sultra, Ali Mazi. Groundbreaking pembangunan patung dilakukan Ali Mazi pada 22 September 2022. Patung Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi tersebut dirancang setinggi 23 meter dan dibangun di atas permukaan air laut kawasan Kotamara, Kota Baubau.

Monumen itu diproyeksikan menjadi ikon baru Kota Baubau sekaligus mengenang perjuangan Oputa Yi Koo melawan kolonial Belanda. Total anggaran proyek mencapai Rp53 miliar yang bersumber dari APBD Sultra. Tahap pertama sebesar Rp17 miliar pada 2022 dan tahap kedua Rp36 miliar pada 2023.

Kontrak Rp15 Miliar: Seniman dan Kontraktor

Bagi Rinta, proyek tersebut kemudian berubah menjadi persoalan panjang. Pada 10 April 2023, Direktur PT Adhi Prima Mandiri Persada, Arman, melakukan kerja sama dengan Direktur CV Logam Sakti, Rinta Irvanda, di Makassar.

Rinta menyebut dirinya mendapatkan kontrak senilai Rp15 miliar untuk pekerjaan konstruksi patung. Sementara sisa anggaran proyek menjadi kewenangan pihak kontraktor.

Ia bersama sejumlah pekerjanya kemudian mengerjakan patung tersebut hingga selesai dan diserahterimakan pada 14 Juni 2024. Rinta berharap setelah pekerjaan selesai, haknya segera dibayarkan.

Namun, menurut pengakuannya, masih terdapat pembayaran sekitar Rp2,8 miliar dan Rp476 juta untuk pekerjaan konstruksi yang belum diselesaikan. Di saat bersamaan, sejumlah material masih harus dibayar dan para pekerja menunggu upah.

Nasib Seniman: Rumah, Mobil, Studio Ludes

Rinta kemudian mencoba bertahan. Ia meminjam uang ke berbagai pihak demi menutup kewajiban dan menjaga agar para pekerjanya tetap mendapatkan hak. Tetapi utang yang semakin menumpuk akhirnya membuat dirinya kehilangan satu per satu aset yang dimiliki. Rumah dilepas. Mobil dilepas. Studio tempatnya menghasilkan karya pun ikut dilepas.

“Beberapa karyawan saya masih bisa sabar. Tapi ada juga yang tidak bisa karena semua punya kebutuhan. Makanya saya bingung harus bagaimana lagi,” ucap Rinta kepada Kisahan.id, Jumat (25/9/2026).

Tinggalkan Yogyakarta, Merantau di Surabaya

Rinta mengatakan dirinya bukan pergi meninggalkan keluarga karena ingin mencari kehidupan baru. Ia pergi karena harus bertahan.

“Saya tetap seniman. Sekarang saya ikut-ikut orang di Surabaya, Pak. Yang penting bisa dapat uang dulu,” katanya.

Di Surabaya, ia kembali bekerja dari bawah. Baginya, pekerjaan apa pun yang masih berkaitan dengan keahliannya akan dijalani selama dapat menghasilkan uang untuk dikirim kepada keluarga.

“Saya merintis ini melanjutkan karya ayah saya sejak 2013 lalu. Dulu saya digaji Rp45.000. Saya dipercaya, mulai ambil kerjaan sendiri, hidup cukup bersama keluarga. Tapi kali ini saya terlantar di tanah rantau, imbas pekerjaan patung di Baubau,” tuturnya.

Ada kesedihan dalam perjalanan panjang tersebut. Dari seorang seniman yang pernah memiliki rumah, studio, pekerjaan dan kehidupan yang cukup bersama keluarga, kini Rinta harus menata ulang semuanya dari Surabaya. Sementara anak-anaknya tumbuh dengan sosok ayah yang hanya bisa mereka lihat melalui layar ponsel.

Tuntut Hak di Sultra, Ditemani Sopir dari Bandara

Rinta mengaku tidak berhenti berusaha mendapatkan kejelasan mengenai pembayaran tersebut. Ia berulang kali berkomunikasi dengan pihak kontraktor.

Namun menurut pengakuannya, respons yang diterima tidak seperti yang diharapkan. Ia bahkan mengaku diminta berurusan langsung dengan Dinas Cipta Karya, Bina Konstruksi, dan Tata Ruang Sultra.

Rinta kemudian terbang dari Yogyakarta menuju Kendari. Tak banyak orang yang dikenalnya di daerah tersebut. Dalam kondisi itu, seorang sopir taksi yang dikenalnya di Bandara Haluoleo justru menjadi orang yang menemaninya.

“Saya pernah ke dinas, hanya ditemani oleh sopir taksi itu. Sopir itu baik dan menemani saya keliling mencari keadilan untuk hak-hak saya. Meskipun hasilnya nihil, dia hanya bisa berusaha semampunya,” ujarnya.

Ia datang jauh-jauh bukan untuk meminta belas kasihan. Ia mengaku hanya ingin mendapatkan hak atas pekerjaan yang telah diselesaikannya.

Istri Bertahan Jual Nasi Goreng: Anak Merindu

Di Yogyakarta, Erni memilih berdamai dengan keadaan. Ia berjualan nasi goreng untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga. Sementara Rinta terus bekerja di Surabaya. Mereka menjalani kehidupan masing-masing dengan satu tujuan: bertahan sampai keadaan membaik.

Namun, jarak tetap menyisakan luka. Ketika rindu datang, tak ada pelukan. Tak ada makan bersama. Tak ada percakapan panjang di ruang keluarga. Hanya layar ponsel.

“Sebagai seorang istri, rasanya sangat sedih melihat suami yang sudah mencurahkan tenaga dan pikiran untuk pekerjaan itu, tetapi harus menanggung akibatnya,” kata Erni.

Bagi Rinta, perjalanan proyek Patung Oputa Yi Koo belum selesai. Bukan karena patungnya belum berdiri. Patung itu telah berdiri megah di Kotamara. Tetapi perjuangan dirinya untuk mendapatkan hak atas pekerjaan tersebut masih terus berjalan.

Di satu sisi, sebuah monumen dibangun untuk mengenang perjuangan seorang pahlawan. Di sisi lain, seorang seniman yang mengerjakan bagian dari monumen itu kini sedang menjalani perjuangannya sendiri, jauh dari rumah, jauh dari anak-anaknya, dan jauh dari kehidupan yang dahulu ia bangun sejak 2013.

Kini Rinta hanya berharap ada jalan keluar. Ia ingin kembali berkumpul dengan keluarganya, kembali memiliki ruang untuk berkarya, dan menyelesaikan kewajiban kepada orang-orang yang selama ini ikut berjuang bersamanya.

Sementara itu, Direktur PT Adhi Prima Mandiri Persada, Arman, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan keterangan resmi terkait persoalan pembayaran yang disampaikan Rinta.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *