KENDARI, KISAHAN.ID – Pengelola Bendungan Ameroro, Kabupaten Konawe dan Bendungan Ladongi, Kabupaten Kolaka Timur menepis isu adanya potensi terjadinya gempa susulan dengan magnitudo 7.0 di Sulawesi Tenggara (Sultra).
Kepala Unit Pengelola Bendungan (UPB) Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi IV Kendari, Sunoto Prayitno, isu yang kini tersebar di media sosial tidak benar alias hoaks. Olehnya itu, ia mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu dan informasi di media sosial yang belum terkonfirmasi kebenarannya.
“Pihak BWS dan BMKG akan terus memberikan informasi kepada masyarakat terkait kondisi yang terjadi saat ini,” ujarnya, Rabu (29/1/2025).
Data yang dihimpun media ini dari BMKG, sejumlah wilayah di Sultra diguncang rentetan gempa tektonik dengan kekuatan bervariasi. Sejak 24 Januari 2025 pukul 21.37 Wita hingga 29 Januari 2025 pukul 15:00 Wita, total gempa mencapai 178 kali.
Menurut analisa BMKG, pusat gempa berada di Tenggara Lalolae, Koltim, yang menjadikan masyarakat daerah ini paling banyak merasakan getaran. Gempa yang berpusat di Koltim ini juga dirasakan di sejumlah daerah, di antaranya Kolaka, Konawe, Konawe Selatan dan Kota Kendari.
Sunoto menyebut, terkait adanya rentetan gempa yang terjadi, kondisi dua bendungan yakni Bendungan Ladongi dan Bendungan Ameroro dipastikan tetap aman. Bahkan, sejak gempa pertama terjadi, pihaknya langsung melakukan pemeriksaan luar biasa terhadap dua bendungan tersebut.
“Hal ini sesuai dengan Surat Edaran Menteri PUPR No. 08/SE/M/TAHUN 2022 Tentang Pedoman pemeriksaan luar biasa Bendungan Pasca Gempa,” bebernya.

Pengecekan bendungan pasca gempa. Dok. Istimewa.
Hasil pemeriksaan luar biasa itu, kata Sunoto, kedua bendungan tersebut masih dalam kondisi sangat aman. Tidak ditemukan adanya pergerakan konstruksi di dua bendungan tersebut.
“Kami sudah melakukan pemeriksaan luar biasa, baik di tubuh bendungan, sandaran bendungan, di terowongan, dan yang lainnya. Kami sudah melakukan identifikasi secara keseluruhan di Bendungan Ladongi dan Ameroro, dan kondisinya itu masih aman semua, belum ada pergerakan,” ucapnya.
Sunoto menegaskan, pihaknya terus berkoodinasi dan mengupdate informasi dari BMKG. Informasi sekecil apapun dari BMKG, akan langsung ditindaklanjuti dengan melakukan pengecekan lapangan.
“Artinya setiap kejadian yang ada, kami langsung melakukan inspeksi secara langsung dan menyeluruh,” tambahnya.
Sunoto juga menjelaskan bahwa bendungan tersebut sudah dilengkapi dengan Early warning system (EWS) yang langsung merekam dan menyampaikan kekuatan getaran gempa. Jika kekuatan gempa sudah melebihi ambang batas aman, maka alarm yang dipasang di beberapa titik EWS di sekitar bendungan akan berbunyi.
Selain adanya EWS di bendungan, BWS juga menyiagakan petugas. Petugas akan memantau aktivitas bendungan secara langsung selama 24 jam.
“Jadi jangan terpengaruh dengan informasi yang beredar,” pungkasnya.
Redaksi



Komentar