Advetorial Pemerintah Pemkot Kendari

Semester Pertama 2025, Pasar Tradisional Sumbang PAD Rp700 Juta untuk Kota Kendari

Kepala Disperdagkop UKM Kendari, Syarifuddin. Dok. Istimewa.

KENDARI, KISAHAN.ID – Di tengah derasnya gelombang digitalisasi dan maraknya pusat perbelanjaan modern, pasar tradisional Kota Kendari justru membuktikan diri sebagai benteng terakhir ekonomi rakyat. Dalam kurun waktu enam bulan pertama tahun 2025, tiga dari empat pasar tradisional yang dikelola langsung oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari berhasil menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebesar Rp700 juta.

Pencapaian ini bukan sekadar angka fiskal, melainkan cermin dari daya hidup ekonomi mikro yang terus berdenyut, menjadi penggerak utama geliat perdagangan rakyat kecil.

Tiga pasar yang menjadi penyumbang PAD terbesar tersebut adalah Pasar Sentral Kota Lama Kendari, Pasar Basah Mandonga, dan Pasar PKL Paddy’s Market Kendari. Ketiganya dikelola langsung oleh Dinas Perdagangan, Koperasi, dan UKM (Disperdagkop UKM) Kota Kendari, dengan sumber pendapatan berasal dari sewa los, sewa lahan, dan retribusi parkir yang disetorkan rutin ke kas daerah.

Pasar Kota Lama, salah satu penyumbang PAD untuk Kota Kendari. Dok. Istimewa.

“Dari Januari hingga Juni 2025, PAD dari tiga pasar ini telah tembus Rp700 juta. Ini bukti bahwa pasar tradisional masih sangat relevan dan layak dikembangkan,” ujar Kepala Disperdagkop UKM, Syarifuddin, Senin (7/7/2025).

Meski begitu, Pasar Baru (Sentral Wuawua) sebagai satu dari empat pasar milik Pemkot masih belum mampu berkontribusi terhadap PAD. Kurangnya pengunjung menjadi hambatan utama. Namun, alih-alih ditinggalkan, pasar ini justru menjadi prioritas pembenahan dan penataan ulang oleh pemerintah kota.

“Kita sedang benahi Pasar Baru. Fokus pada penataan ulang agar bisa menarik pembeli dan kembali hidup,” tambah Syarifuddin.

Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman, turut memberikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, peran pasar tradisional dalam membangun ekonomi lokal sangat strategis karena langsung menyentuh kebutuhan masyarakat bawah.

Suasana Wakil Wali Kota Kendari, Sudirman saat memimpin rapat pengelolaan pasar di Kendari. Dok. Istimewa.

“Pasar tradisional adalah wajah ekonomi rakyat kita. Kalau pasar hidup, maka ekonomi warga juga ikut hidup. Rp700 juta itu bukan angka kecil, itu hasil keringat pedagang kecil yang harus kita apresiasi dan fasilitasi,” tegas Sudirman.

Ia menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya menargetkan PAD semata, tetapi juga ingin menciptakan pasar yang nyaman, aman, bersih, dan berdaya saing. Pemerintah Kota juga akan meningkatkan pelayanan, fasilitas sanitasi, dan sistem tata kelola pasar berbasis digital untuk mendorong transparansi dan kenyamanan pengunjung.

“Revitalisasi bukan hanya renovasi bangunan, tapi juga tentang bagaimana menghadirkan layanan yang ramah, fasilitas yang baik, dan sistem yang tidak merugikan pedagang,” ujarnya.

Keberhasilan pengelolaan tiga pasar tradisional ini membuktikan bahwa dengan tata kelola yang baik dan dukungan masyarakat, pasar tetap menjadi sumber PAD yang signifikan dan ruang interaksi sosial yang inklusif. Pasar bukan sekadar tempat jual beli, tetapi ruang yang membentuk kedekatan warga, membangun ekonomi keluarga, dan menjadi tempat tumbuhnya solidaritas lokal.

Pasar Baru Wuawua Kendari yang akan direvitalisasi agar menghasilkan PAD di Kendari. Dok. Istimewa.

Di bawah kepemimpinan Wali Kota Siska Karina Imran dan Wakil Wali Kota Sudirman, Pemerintah Kota Kendari terus berkomitmen menjadikan pasar tradisional sebagai pilar ekonomi rakyat yang kuat, adaptif, dan berkelanjutan.

Dengan semangat inovasi dan kolaborasi, Pemkot Kendari yakin pasar tradisional akan tetap menjadi jantung perekonomian kota yang berdetak seiring langkah pembangunan menuju Kendari yang semakin maju. (ADV)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *