KISAHAN.ID – Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) kembali menunjukkan komitmennya dalam mendorong ekspor nontambang melalui pelepasan 50 ton arang tempurung kelapa asal Konawe Selatan menuju Tiongkok melalui Pelabuhan New Port Kendari, Sabtu (21/2/2026).
Ekspor perdana ini dilakukan oleh Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih Awunio, Kecamatan Kolono, Kabupaten Konawe Selatan, dengan total nilai transaksi mencapai Rp750 juta. Capaian tersebut menjadi tonggak penting bagi penguatan komoditas berbasis desa agar mampu bersaing di pasar global.
Pelepasan ekspor dilakukan langsung oleh Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua, yang juga menjabat sebagai Ketua Tim Percepatan Ekspor Sultra. Ia menegaskan bahwa langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang pemerintah daerah dalam memperkuat sektor ekonomi kerakyatan.
“Ekspor ini bukan sekadar seremoni pelepasan barang, tetapi komitmen jangka panjang. Kita ingin memastikan ekspor berjalan berkelanjutan dan konsisten,” ujarnya.
Menurutnya, pasar internasional membutuhkan kepastian pasokan dan kualitas produk yang terjaga. Karena itu, pemerintah daerah akan terus memberikan pendampingan kepada koperasi dan pelaku usaha desa agar mampu menjaga kontinuitas produksi.
Data menunjukkan tren pertumbuhan ekspor nontambang Sultra yang signifikan. Pada 2024, nilai ekspor nontambang tercatat Rp11,1 miliar. Angka tersebut meningkat menjadi Rp16,37 miliar pada 2025 atau tumbuh sekitar 47,5 persen. Memasuki awal 2026, periode Januari–Februari saja telah mencatat nilai ekspor nontambang sebesar Rp35 miliar.
Jika dibandingkan dengan capaian sepanjang 2025, realisasi dua bulan pertama 2026 meningkat sekitar 113,8 persen. Bahkan dibandingkan 2024, kenaikannya mencapai sekitar 215 persen. Sementara itu, sektor tambang masih mendominasi dengan nilai ekspor Rp4,4 triliun pada periode yang sama.
Hugua menyebut keberhasilan Kopdes Merah Putih Awunio sebagai koperasi desa kedua di Indonesia yang mampu menembus pasar ekspor langsung, sekaligus yang pertama di kawasan Indonesia Timur.
“Ini bukti bahwa desa punya daya saing global. Dengan pengelolaan yang profesional dan dukungan kebijakan yang tepat, produk desa bisa menembus pasar mancanegara,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara berharap ekspor arang tempurung ini menjadi pemicu bagi koperasi dan pelaku usaha desa lainnya untuk memperluas pasar internasional serta memperkuat fondasi ekonomi berbasis desa.
Redaksi



















Komentar