KISAHAN.ID – Kebun Raya Kendari mulai dipersiapkan Pemerintah Kota Kendari untuk dikembangkan menjadi kawasan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Tidak hanya berfungsi sebagai ruang konservasi, kawasan ini diarahkan menjadi pusat edukasi, wisata, penelitian, sekaligus ruang pengembangan potensi alam dan budaya Sulawesi Tenggara.
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan pengembangan Kebun Raya Kendari yang digelar Dinas Lingkungan Hidup di salah satu hotel di Kendari, Minggu (9/8/2026). Pertemuan dihadiri Wali Kota Kendari Siska Karina Imran, Ketua DPRD Kota Kendari LM Inarto, Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, serta PT Jala Energy yang menawarkan konsep pengembangan melalui skema kerja sama pemerintah dan badan usaha (KPBU).
Wali Kota Kendari Siska Karina Imran mengatakan, ketertarikan investor terhadap Kebun Raya Kendari menjadi tanda bahwa kawasan tersebut memiliki potensi besar untuk dikembangkan. Eksplorasi yang dilakukan PT Jala Energy selama sekitar dua pekan disebut menjadi langkah awal untuk menentukan arah pengembangan.

Menurut Siska, pemerintah harus segera mengambil keputusan agar rencana tersebut tidak berhenti pada tahap diskusi dan presentasi.
“Kita tidak menginginkan hanya sekadar ekspos biasa. Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus memutuskan apakah kerja sama KPBU ini akan dilanjutkan. Jangan sampai investor sudah datang dan kita dari pemerintah masih maju mundur,” ujar Siska.
Ia meminta seluruh perangkat daerah terkait memperjelas skema kerja sama, kelengkapan administrasi, hingga tahapan pengembangan. Pemerintah juga akan melibatkan Bagian Kerja Sama, Inspektorat, aparat penegak hukum, dan pemangku kepentingan lainnya untuk memastikan seluruh proses berjalan sesuai ketentuan.
Siska menargetkan pengembangan Kebun Raya Kendari memiliki tahapan yang terukur, mulai dari pekerjaan pada akhir 2026 hingga program lanjutan pada tahun-tahun berikutnya. Setiap tahap diharapkan memiliki target dan hasil yang jelas.

Ia menilai Kebun Raya Kendari memiliki posisi strategis sebagai salah satu kebun raya unggulan di kawasan Indonesia Timur. Karena itu, pengembangannya harus dilakukan secara berkelanjutan dengan tetap menjaga fungsi konservasi.
“Harapan kita besar. Banyak yang bisa kita tarik, mulai dari pengembangan daerah, potensi flora, fauna dan ekosistem yang ada. Jangan hanya sekadar diskusi. Kita harus punya timeline dan output yang jelas,” kata Siska.
Sementara itu, pihak PT Jala Energy melalui Adam menyebut ketertarikannya terhadap Kebun Raya Kendari didorong potensi alam, budaya, dan ekonomi yang dinilai belum dimanfaatkan secara optimal.
Ke depan, kawasan tersebut dibayangkan tidak sekadar menjadi destinasi wisata lokal, tetapi berkembang sebagai kawasan konservasi, pusat pembelajaran, dan laboratorium alam yang mampu menarik pengunjung dari berbagai daerah hingga mancanegara.

Pengembangan dirancang dalam tiga fase. Fase pertama selama satu hingga dua tahun akan difokuskan pada pengenalan dan eksplorasi potensi yang sudah ada. Tahap ini diharapkan membuat masyarakat Kendari semakin mengenal sekaligus memiliki rasa bangga terhadap Kebun Raya.
“Ketika kenal, kita sayang. Ketika kita sayang, kita jaga, kemudian diwariskan kepada generasi berikutnya,” ujarnya.
Fase kedua diarahkan untuk memperluas daya tarik kawasan sehingga Kendari dapat menjadi salah satu tujuan wisata utama di Sulawesi. Sementara fase ketiga diproyeksikan lebih jauh, yakni mendorong Kebun Raya Kendari menjadi bagian dari warisan dunia dengan mengangkat kekayaan alam, budaya, serta spesies endemik Sulawesi.
Ketua DPRD Kota Kendari LM Inarto menyatakan dukungannya terhadap rencana tersebut. Namun, ia mengingatkan agar aspek hukum dan dokumen kerja sama diperhatikan secara serius. Selain itu, manfaat ekonomi dari pengembangan kawasan harus dirasakan langsung masyarakat.
“Kalau ini berjalan, tenaga kerja dan masyarakat harus dilibatkan. Kemudian pohon-pohon dan lingkungan yang ada juga harus dijaga,” pesannya.
Dengan dukungan pemerintah, DPRD, masyarakat, serta calon mitra usaha, pengembangan Kebun Raya Kendari diharapkan menjadi investasi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat sektor pariwisata, tetapi juga menjaga kekayaan alam dan budaya Sulawesi Tenggara untuk generasi mendatang. (ADV)



















Komentar