Headline

Tarif Pincara Meroket, Pengendara Gigit Jari saat Melintas di Sambandete Konut

Suasana warga yang melintas menggunakan pincara di Konut. Dok. Kisahan.id

KONUT, KISAHAN.ID – Akses Jalan Trans Sulawesi tepatnya di Desa Sambandete, Kecamatan Oheo, Kabupaten Konawe Utara (Konut), Sulawesi Tenggara (Sultra) masih terisolasi banjir, Kamis (3/4/2025). Akibatnya, sejumlah pengendara yang melintas terpaksa “gigit jari” sebab tarif pincara yang terus meroket.

Jalan Trans Sulawesi ini mulai terisolasi banjir sejak dua minggu lebih, atau tepatnya Rabu (19/3). Hingga kini, pengendara yang melintas masih menggunakan jasa penyeberangan perahu rakit, atau pincara.

Sala satu pengendara bernama Sawal, mengatakan ia pernah melakukan perjalanan saat mudik lebaran pada Minggu (30/3). Ia bergerak dari arah Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah (Sulteng) menuju Kota Kendari, Sultra.

Sesampainya di Desa Sambandete, ia harus mengantre karena satu-satunya akses untuk melintas adalah bergantian menggunakan pincara. Hanya saja, tarif setiap kali menyeberang adalah Rp100 ribu, untuk kendaraan roda dua.

“Satu kali jalan kita bayar Rp100 ribu. Bagaimana kalau kita ini yang pulang balik Morowali-Kendari, atau Kendari-Morowali. Pasti mi membayar lagi,” sesalnya.

Berbeda dengan kendaraan roda empat. Tarifnya bervariasi sesuai jenis kendaraan yang digunakan, antara Rp400 ribu-Rp800 ribu. Sala satu driver berinisial R, mengatakan ia sering bolak-balik Kendari-Morowali dan sebaliknya, untuk mengantar penumpang. Bukannya untung, ia justru buntung karena tarif pincara yang meroket.

“Tadi malam (Rabu, 2/4), saya lewat pakai mobil Sigra saya bayar Rp500 ribu. Tidak tahu berapa harganya kalau mobil merek lain, beda-beda tergantung jenisnya,” bebernya.

Meskipun keuntungan hasil mengantar penumpang berkurang karena ongkos pincara, R mengaku tidak bisa berbuat banyak sebab Desa Sambandete tetap harus dilalui. Apalagi, penumpang langganannya melewati jalur tersebut.

Dengan kondisi tersebut, pengendara dan para driver yang melintas berharap agar air segera surut sehingga mereka tak perlu lagi mengeluarkan biaya besar untuk melakukan perjalanan.

Selain itu, mereka berharap agar pemerintah setempat bisa mencarikan solusi terbaik sebab lokasi itu selalu menjadi langganan banjir saat hujan turun.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *