Hukrim

Kepsek dan Drama Seragam SMAN 2 Kendari: Dikonfirmasi Malah Main Blokir, Ancam Melapor Jika Tak Hapus Berita

Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Kendari, Nur Aida. Dok: Istimewa.

KISAHAN.ID – Kepala Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 2 Kendari, Nur Aida, memilih memblokir nomor WhatsApp wartawan saat dikonfirmasi mengenai rincian anggaran pembelian seragam sekolah yang disebut tidak transparan disampaikan kepada orang tua siswa.

Pemblokiran tersebut diketahui setelah wartawan kembali menghubungi Nur Aida untuk meminta penjelasan terkait alasan pihak sekolah tidak memberikan rincian biaya seragam kepada orang tua siswa.

Sebelumnya, pada Sabtu (29/8/2026) pukul 08.37 Wita, media ini melakukan konfirmasi kepada Nur Aida. Pesan tersebut sempat dijawab singkat pada pukul 20.13 Wita.

Konfirmasi lebih lanjut terus dilakukan hingga Minggu (30/8) dan Senin (31/8), tetapi tidak mendapat respons.

Pada Selasa (1/9) pagi, media ini kembali mengirimkan pesan WhatsApp untuk menggali informasi mengenai persoalan rincian harga seragam. Namun, pesan tersebut hanya menunjukkan tanda centang satu.

Media ini kemudian melakukan pengecekan menggunakan nomor WhatsApp lain. Hasilnya, nomor Nur Aida menunjukkan tanda centang dua. Kondisi tersebut menjadi indikasi bahwa nomor wartawan telah diblokir.

Guna mendapatkan informasi lebih lanjut, konfirmasi juga dilakukan kepada Humas SMAN 2 Kendari, Nurdiana. Ia kemudian memberikan tanggapan atas sejumlah pertanyaan yang disampaikan.

Pada Selasa (1/9) pukul 13.37 Wita, KISAHAN.ID menerbitkan berita berjudul “Anggaran Siluman” di SMAN 2 Kendari: Harga Seragam Tembus Rp1,3 Juta, Rincian Tak Dibuka.

Sekitar 33 menit setelah berita diterbitkan, tepatnya pukul 14.10 Wita, Nur Aida membuka blokir dan mengirimkan nomor pengacaranya kepada KISAHAN.ID untuk keperluan konfirmasi. Wartawan kemudian menghubungi pengacara yang dimaksud. Namun, hingga saat ini, belum ada respons.

Pada pukul 15.28 Wita, Nurdiana yang sebelumnya memberikan keterangan dan mengaku sebagai Humas SMAN 2 Kendari menyampaikan keberatan karena media ini disebut tidak meminta izin sebelum berita dipublikasikan. Padahal, konfirmasi telah dilakukan sebelum berita diterbitkan dan keterangan Nurdiana telah dimasukkan dalam materi pemberitaan.

Pada Kamis (3/9), Nur Aida dan Nurdiana kompak mengirimkan rilis klarifikasi yang disebut sebagai hak jawab pihak sekolah. Dalam rilis tersebut, pihak sekolah menjelaskan bahwa SMAN 2 Kendari memiliki koperasi yang menyediakan kebutuhan perlengkapan siswa.

Kepsek SMAN 2 Kendari, Nur Aida, saat menyerahkan seragam gratis sekaligus memanggil siswa berprestasi saat upacara. Dok: Istimewa.

Orang tua dan siswa disebut diberikan kebebasan untuk memilih item yang dibutuhkan, sementara biaya yang dibayarkan disesuaikan dengan jumlah seragam yang diambil.

Namun, klarifikasi tersebut tidak menjelaskan secara spesifik alasan rincian harga seragam tidak diberikan kepada orang tua siswa sebagaimana menjadi pokok persoalan dalam pemberitaan sebelumnya.

Dalam komunikasi setelah pemberitaan viral, Nur Aida meminta agar berita tersebut diralat atau dihapus. Ia menyebut akan menempuh jalur hukum dan melaporkan persoalan tersebut apabila permintaan tidak dipenuhi.

“Kami pihak sekolah menunggu perubahan pemberitaan dan dalam waktu 1×24 jam, jika tak ada klarifikasi berita maka kami akan menggunakan hak hukum sesuai kode etik jurnalis dari Dewan Pers Indonesia. Untuk semua akun media sosial yang kita miliki, kami pihak SMAN 2 Kendari kiranya segera diralat beritanya atau dihapus,” ucapnya.

Pihak sekolah beralasan pemberitaan dinilai tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya, tidak berimbang, serta merugikan pihak sekolah. Sementara itu, proses konfirmasi telah dilakukan sebelum berita diterbitkan, baik kepada Kepala SMAN 2 Kendari maupun Humas sekolah.

Sebelumnya, polemik pengadaan paket seragam siswa SMAN 2 Kendari, membuat gaduh di kalangan orangtua siswa. Pasalnya, orangtua siswa disebut harus membayar hingga Rp1,3 juta lebih per siswa, namun rincian harga setiap jenis seragam dan atribut yang menjadi dasar pembayaran belum diberikan secara terbuka.

Tidak adanya rincian resmi membuat sejumlah orangtua siswa menduga adanya “anggaran siluman” di balik pengadaan seragam itu.

Salah seorang orangtua siswa yang meminta identitasnya dirahasiakan mengatakan, pembayaran seragam ini dilakukan berdasarkan nominal yang disampaikan pihak sekolah. Tak ada rincian pasti padahal mereka sudah meminta berulangkali.

“Kita tidak dikasi rincian, murni mengikut dari yang disebut pihak sekolah. Setiap kali orangtua minta rincian, bahkan disampaikan di grup WhatsApp orangtua, tidak transparan juga, kaya “anggaran siluman” saja. Kalau ada rincian, kita kan bisa lihat, ini keterbukaan juga,” ujarnya, Selasa (1/9/2026).

Berdasarkan data yang diterima Kisahan.id, terdapat siswa yang membayar sekitar Rp675 ribu untuk sejumlah paket seragam. Sementara, siswa lainnya disebut ada membayar hingga sekitar Rp1,3 juta.

Tanpa rincian harga, orangtua mengaku kesulitan memastikan apakah nominal pembayaran ratusan ribu hingga Rp1,3 juta tersebut benar-benar sebanding dengan barang yang diterima siswa.

Karena itu, orangtua siswa mengaku berhak mendapatkan penjelasan secara terang-benderang mengenai total nilai pengadaan, dasar penetapan harga, rincian harga setiap item, mekanisme pembelian, serta pihak yang bertanggung jawab dalam pengadaan tersebut.

Penulis: Herlis Ode Mainuru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *