Hukrim

Dua Pengemudi Online Dihajar di Pelabuhan Kendari, Perjuangan Mencari Rezeki Berujung Air Mata

Seorang pengemudi taksi online, inisial A, yang dihajar di Pelabuhan Nusantara Kendari. Dok: Istimewa.

KISAHAN.ID – Nasib pilu dialami dua pengemudi online di Pelabuhan Nusantara Kendari, Senin (22/6/2026). Saat berusaha menjemput penumpang demi mencari nafkah, keduanya justru menjadi korban dugaan penganiayaan oleh sejumlah orang yang belum diketahui identitasnya.

Korban terdiri atas seorang pengemudi ojek online (belum diketahui identitasnya) dan seorang pengemudi taksi online, inisial A.

Pengemudi ojol dikabarkan mengalami pemukulan di bagian kepala. Beruntung, benturan tersebut mengenai helm yang dikenakannya.

Sementara itu, seorang pengemudi taksi online berinisial A mengalami luka setelah dipukul pada bagian hidung.

Peristiwa itu terjadi di kawasan Pelabuhan Nusantara Kendari, Kecamatan Kendari, Kota Kendari, ketika para pengemudi sedang menjalankan pekerjaannya menjemput penumpang yang baru tiba.

Alih-alih memperoleh penghasilan untuk memenuhi kebutuhan keluarga, keduanya justru harus menghadapi aksi kekerasan yang diduga dipicu persoalan penjemputan penumpang.

Rekan korban, F (44), mengatakan insiden tersebut membuat suasana di pelabuhan menjadi tegang. Para pengemudi yang sehari-hari menggantungkan hidup dari layanan transportasi daring terlihat tidak berdaya saat menjadi sasaran kekerasan.

“Pengemudi ojol motor dipukul pada bagian kepala, tetapi mengenai helm yang dipakainya. Sementara pengemudi mobil dipukul pada bagian hidung,” ujar F, kepada Kisahan.id.

Peristiwa itu meninggalkan duka bagi para korban. Di tengah kondisi ekonomi yang tidak mudah, mereka hanya berupaya mencari rezeki dengan menjemput penumpang, namun justru menjadi korban tindakan kekerasan.

Usai kejadian, kedua korban mendatangi kantor kepolisian untuk melaporkan dugaan penganiayaan yang mereka alami. Mereka berharap pelaku segera diungkap dan diproses sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

Insiden tersebut kembali menyoroti kerentanan para pengemudi transportasi daring yang bekerja di lapangan. Saat mereka berjuang memenuhi kebutuhan keluarga, ancaman kekerasan masih membayangi aktivitas mereka dalam mencari nafkah.

Bagi kedua korban, Senin siang itu bukan sekadar kehilangan pendapatan. Mereka pulang dengan luka dan trauma setelah niat mencari rezeki berubah menjadi pengalaman pahit di depan gerbang pelabuhan.

Redaksi

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *