Hukrim

Viral Ibu-ibu Keluhkan Pasar Muna Barat: Rutin Bayar Karcis Tapi WC di Semak-semak

Ibu-ibu di Muna Barat yang protes tak ada WC di pasar, padahal rutin bayar karcis. Dok: Istimewa.

KISAHAN.ID – Di tengah berbagai pembangunan, pedagang Pasar SP1, Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara (Sultra), rupanya masih memiliki satu impian yang terdengar sangat sederhana, sebuah toilet umum. Harapan itu mencuat setelah sebuah video yang diunggah akun Facebook Marwa Naura viral di media sosial.

Dalam video tersebut, para pedagang, terutama pedagang perempuan dan pedagang ikan, menyampaikan keluhan yang terdengar miris sekaligus mengundang senyum pahit. Sebab, setiap kali alam memanggil, tujuan mereka bukan menuju WC, melainkan semak-semak.

“Tolong kami pak, kami selaku pengunjung dan penjual di pasar tiap hari memohon agar dibuatkan WC untuk di Pasar SP1 karena di sini tidak ada WC. Kami sangat membutuhkan, apalagi khususnya penjual ikan,” ujar perekam video yang ditujukan kepada Bupati Muna Barat.

Para pedagang mengaku rutin bayar karcis atau retribusi pasar setiap kali berjualan. Namun, fasilitas dasar yang seharusnya menjadi pelengkap pasar justru belum tersedia. Alhasil, aktivitas berdagang terkadang harus diselingi “ekspedisi dadakan” ke semak atau rawa ketika ingin buang air.

“Kami tiap pasar bayar karcis, tapi tidak ada inisiatif untuk dibuatkan WC. Mau buang air terpaksa pergi ke semak-semak atau rawa-rawa,” keluh salah seorang pedagang.

Bagi pedagang ikan, persoalannya bahkan lebih serius. Selain membutuhkan toilet, mereka juga memerlukan akses air bersih untuk mencuci tangan dan membersihkan dagangan. Tanpa itu, aktivitas jual beli menjadi jauh dari standar kebersihan yang semestinya ada di sebuah pasar.

Ironisnya, menurut para pedagang, pasar lain di wilayah Muna Barat seperti Pasar SP2 dan Pasar Kambara sudah memiliki fasilitas toilet. Sementara Pasar SP1 seolah masih menjadi “zona latihan bertahan hidup”, di mana semak dan rawa mengambil alih fungsi yang seharusnya dijalankan sebuah WC.

Pedagang mengaku telah berulang kali menyampaikan persoalan tersebut kepada pengelola maupun mandor pasar. Namun hingga kini belum ada kepastian kapan fasilitas sanitasi itu akan dibangun.

Di balik candaan tentang “toilet alam”, tersimpan persoalan yang sebenarnya sangat serius. Toilet umum bukanlah fasilitas mewah, melainkan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan kesehatan, kebersihan, dan martabat para pedagang maupun pengunjung.

Kini, para pedagang hanya berharap pemerintah daerah segera menjawab keluhan itu. Sebab, jika pasar sudah memiliki karcis, semestinya tidak lagi mengandalkan semak sebagai “fasilitas VIP” bagi pedagang dan pembeli.

Penulis: Herlis Ode Mainuru

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *