Hukrim

MiChat Jadi Pintu Masuk, Ibu Persit Ungkap Dugaan Perselingkuhan Oknum TNI di Kendari 

Oknum TNI yang digerebek istri di Kendari. Dok: Istimewa.

KISAHAN.ID – Janji tinggal janji. Seorang ibu Persit di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), WN (42), akhirnya buka suara dan membongkar dugaan perselingkuhan yang menyeret suaminya sendiri, oknum anggota TNI berinisial Sertu LG. Tak hanya soal dugaan main serong, WN juga menyeret kasus ini ke ranah hukum dengan melaporkan dugaan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) ke Kodim 1417 Kendari dan Denpom XIV/3 Kendari.

Luka yang dipendam bertahun-tahun itu memuncak saat WN menggerebek langsung suaminya bersama perempuan lain di sebuah kamar penginapan di Kendari pada 2024 lalu. Momen itu menjadi titik balik, sekaligus bukti yang selama ini ia cari atas kecurigaannya.

“Saya tangkap tangan sendiri. Perempuannya beda-beda. Dia kenalnya lewat MiChat, di situ biasa baku tawar,” ungkap WN, Jumat (1/5/2026).

Tak berhenti di satu perempuan, WN menduga praktik perselingkuhan itu dilakukan berulang dengan pola yang sama, berkenalan melalui aplikasi, lalu berlanjut ke transaksi hingga pertemuan di penginapan. Fakta ini semakin memperdalam luka yang ia rasakan sebagai istri.

Kasus ini sempat bergulir. Sertu LG bahkan pernah ditahan sebelum akhirnya bebas pada Januari 2025. Saat itu, ia meminta maaf dan menandatangani surat pernyataan untuk berubah. Namun bagi WN, semua itu hanyalah formalitas tanpa makna.

“Dia minta maaf, janji tidak ulangi. Tapi setelah keluar, tetap saja begitu. Tidak ada perubahan,” tegasnya.

Di balik dugaan perselingkuhan itu, WN juga mengaku harus bertahan dari tekanan lain: dugaan KDRT yang disebut terjadi berulang kali. Ia menilai, perlakuan suaminya tak hanya menyisakan luka fisik dan batin, tetapi juga berdampak langsung pada anak-anak mereka. Ironisnya, di saat kebutuhan anak kerap terabaikan, WN justru menduga suaminya menghamburkan uang untuk perempuan lain.

“Anak-anak mau beli baju Lebaran saja susah, cuma dikasih Rp150 ribu. Tapi perempuan lain bisa sampai Rp1,5 juta,” bebernya geram.

Kondisi itu membuat WN merasa pengorbanannya menjaga rumah tangga dibalas dengan pengkhianatan dan ketidakadilan. Kini, ia memilih melawan dan menuntut kejelasan atas laporannya.

WN berharap institusi terkait tidak menutup mata dan segera menindaklanjuti kasus tersebut secara serius, baik terkait dugaan perselingkuhan maupun KDRT.

“Saya tidak minta lebih, saya cuma mau keadilan. Saya sudah terlalu lama diam,” tutupnya.

Sementara itu, Komandan Denpom XIV/3 Kendari, Letkol CPM Haryadi Budaya Pela, hingga berita ini diterbitkan belum memberikan keterangan resmi.

Redaksi

Facebook Comments Box

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *