KISAHAN.ID – Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, dua putri terbaik Sulawesi Tenggara (Sultra) kini menjalani hari-hari yang dipenuhi kecemasan. Mimpi yang mereka rajut sejak berhasil lolos ke Sampoerna University perlahan diselimuti ketidakpastian setelah beasiswa yang menopang kehidupan mereka mendadak terhenti.
Valeyha Merve Aqliyah dan Astrina Syalomita Taawoeda adalah dua mahasiswi asal Kota Kendari yang selama ini mengandalkan bantuan beasiswa dari Pemprov Sultra untuk melanjutkan pendidikan di Jakarta. Namun sejak Juni 2026, dana beasiswa sebesar Rp3,1 juta per bulan yang biasa mereka terima tak lagi masuk ke rekening mereka.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin hanya nominal. Namun bagi Valeyha dan Astrina, bantuan tersebut adalah penopang harapan, biaya hidup, dan jalan menuju masa depan yang selama ini mereka perjuangkan.
Program beasiswa hasil kerja sama Pemprov Sultra dan Putera Sampoerna Foundation (PSF) telah membuka pintu pendidikan bagi banyak anak daerah sejak 2019.
Pada angkatan 2025, lima mahasiswa diterima melalui program tersebut. Tiga mahasiswa masih menerima bantuan dari PSF, sementara nasib Valeyha dan Astrina yang menjadi tanggungan Pemprov Sultra kini berada di persimpangan jalan.
Valeyha mengaku terkejut ketika mengetahui beasiswa yang selama ini menjadi sandaran hidupnya tidak lagi cair. Padahal, ia dan Astrina baru saja menyelesaikan dua semester perkuliahan dan masih memiliki perjalanan panjang menuju kelulusan.
Di tengah kebingungan, ia mencoba mencari penjelasan. Dari informasi yang diterimanya, persoalan tersebut diduga berkaitan dengan belum adanya pembahasan lanjutan kerja sama antara Pemprov Sultra dan PSF.
“Pihak Sampoerna dan Pemprov Sultra ini bermitra. Pihak Sampoerna ingin bertemu membahas kelanjutan kerja sama ini, sudah sering meminta waktu tapi tidak pernah mendapat waktu dari Gubernur Sultra, makanya berdampak di kami di sini,” ujar Valeyha kepada Kisahan.id, Minggu (7/6/2026).
Lebih menyakitkan lagi, Valeyha mengaku mendengar berbagai kabar yang beredar bahwa program beasiswa dihentikan karena para penerimanya dianggap tidak memiliki komitmen untuk kembali ke Sulawesi Tenggara setelah lulus.
Tuduhan itu membuatnya sedih. Sebab sejak awal menerima beasiswa, ia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk pulang dan mengabdi kepada daerah yang telah memberinya kesempatan.
“Kami tidak tahu itu informasi dari mana. Kami bersyukur dengan beasiswa ini dan tentunya kami akan menjalankan komitmen yang sudah kami sepakati, salah satunya adalah kembali ke daerah asal untuk mendedikasikan diri,” katanya dengan nada penuh harap.
Perasaan serupa dirasakan Astrina. Di tengah masa libur kuliah yang seharusnya menjadi waktu beristirahat, ia justru dihantui ketidakpastian mengenai nasib pendidikannya.
Astrina mengaku tidak tahu lagi langkah apa yang harus dilakukan jika persoalan ini terus berlarut-larut. Ia dan Valeyha hanya bisa berharap ada jalan keluar agar mereka dapat kembali fokus menuntut ilmu.
“Kami hanya berharap Pemprov Sultra dan PSF bisa segera bertemu. Kami tidak tahu harus bagaimana lagi. Kami sudah kuliah dua semester dan ingin tetap melanjutkan pendidikan kami,” ungkap Astrina.
Di balik polemik kebijakan dan kerja sama antar-lembaga, tersimpan kisah dua anak daerah yang hanya ingin menyelesaikan pendidikan. Mereka bukan sedang meminta kemewahan, melainkan kesempatan untuk tetap bertahan mengejar cita-cita.
Setelah meninggalkan kampung halaman, beradaptasi dengan kehidupan baru di Jakarta, dan berjuang menyelesaikan dua semester perkuliahan, kini mereka dihadapkan pada kenyataan pahit bahwa masa depan yang telah direncanakan dengan susah payah bisa terhenti sewaktu-waktu.
Mereka masih menyimpan harapan. Harapan agar pendidikan yang telah diperjuangkan tidak berhenti di tengah jalan. Harapan agar suatu hari nanti mereka dapat kembali ke Bumi Anoa dengan ilmu yang diperoleh, lalu mengabdikan diri untuk daerah yang mereka cintai.
Namun untuk saat ini, yang mereka miliki hanyalah penantian, menunggu kepastian atas mimpi yang kini menggantung di antara ruang kuliah dan keputusan para pemangku kebijakan.
Sebelumnya, Gubernur Andi Sumangerukka, memutuskan menghentikan program beasiswa kerja sama antara Pemprov Sultra dan PSF di tahun 2026. Alasannya, mayoritas penerima beasiswa tidak memiliki komitmen kembali ke daerah usai menyelesaikan pendidikan.
“Beasiswa Sampoerna, saya sebelumnya sudah komunikasi dengan yang bersangkutan. Termasuk saat saya komunikasi dengan mahasiswa, satu pun tidak ada yang mau kembali ke Sultra,” katanya, Kamis (30/4/2026).
Sebagai pengganti, Pemprov membuka program beasiswa baru yang didanai langsung Gubernur Sultra. ASR memilih tak menggunakan APBD agar proses penyaluran beasiswa bisa berjalan cepat.
Total anggaran dirogoh dari kocek pribadi ASR mencapai Rp1,8 miliar. Jumlah itu dibagi untuk 150 penerima beasiswa, mencakup jenjang S1, S2, hingga S3. Khusus S2 dialokasikan sebanyak 30 orang, sedangkan S3 sebanyak 20 orang.
Redaksi



Komentar